Selasa, 09 Oktober 2012

Robot

MAHASISWA SAINS KOMPUTER SELENGGARAKAN TURNAMEN ROBOT LEGO 


Sebuah foto robot jarak dekat yang dibangun dari Kit Lego Mindstorms oleh mahasiswa sains komputer di Universitas Coventry.  (COURTESY OF COVENTRY UNIVERSITY)
Sebuah foto robot jarak dekat yang dibangun dari Kit Lego Mindstorms oleh mahasiswa sains komputer di Universitas Coventry. (COURTESY OF COVENTRY UNIVERSITY)
(Epochtimes.co.id)
Beberapa waktu lalu, banyak anak-anak yang berharap akan mendapatkan Lego dalam kaos kaki Natal-nya. Mahasiswa yang mempelajari sains komputer diUniversity Coventry di Inggris telah menikmati suatu kesenangan pra-Natal dengan versi terbaru dari mainan anak klasik ini.
Lego Mindstorms adalah perangkat khusus yang mencakup semua yang anda butuhkan untuk membangun sebuah robot atau mesin yang dapat diprogram. Sebagai bagian dari program kuliah mereka, mahasiswa mendapat kesempatan untuk bermain dengan perangkat tersebut untuk mempelajari lebih lanjut aplikasi praktis dari sains komputer.
“Robot itu dapat dipasangi sensor yang dapat mengontrol motor dan bereaksi terhadap stimulus (rangsangan) termasuk cahaya, warna, suara, gerakan dan sentuhan,” jelas Michael Odetayo, dosen utama dalam Sains Komputer di Universitas Coventry, dalam siaran pers.
“Robot itu dikontrol oleh mikrochip cerdas komputer Lego, NXT, yang dapat diprogram untuk menerima masukan dari sensor dan mengaktifkan motor servo, yang memungkinkan robot itu dapat bereaksi terhadap lingkungannya.”
Setelah menyusun robot, mahasiswa memutuskan untuk menyelenggarakan kompetisi untuk menguji kemampuan robotnya.
“Turnamen Robot” itu terdiri dari dua kegiatan: perlombaan Grand Prix dua lap seperti perlombaan melawan lawan tunggal; dan navigasi bentang darat “alien” dalam mencari makanan tersembunyi di bawah bola-bola yang berbeda warna, seraya menghindari bahaya seperti pasir hisap dan dinosaurus.
“Kegiatan perlombaan itu tidak lepas dari peniruan proses visual yang menggunakan sensor cahaya untuk mendeteksi garis batas luar hitam sirkuit perlombaan. Pada latihan kedua, robot harus mengatasi serangkaian rintangan dalam sebuah ‘dunia yang hilang,’ dengan menggunakan sensor yang dapat mendeteksi obyek yang berbeda warna untuk memenangkan poin makanan dan menghindari zona berbahaya,” kata Odetayo.
“Kegiatan seperti ini memungkinkan siswa untuk mengkonsolidasikan pembelajaran mereka dengan menggunakan contoh pemrograman praktis dan menikmati suatu kegembiraan.”  (Kat Piper / The Epoch Times / pls)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar